Rebelious soul inside a calm spirit weblog

Tentang Hidup

berkacalah…(saya juga)

Ketika si ibu pemilik warung itu memberikan uang sekedarnya untuk si mbah tua renta yang tadi memohon tolong untuk diberi uang supaya dia bisa membeli obat sakit giginya. Sosok seorang renta yang tak mampu lagi berusaha karena fisiknya yang tak sanggup menopang derita hidup, dan entah kemana sanak familinya dan mungkin anaknya yang dulu dia besarkan dengan susah payah. Disaat senja dia harus sendiri, entah hingga kapan nanti dia sanggup menyusuri sisa hidupnya.

Sosok sang ibu pemilik tambal ban, dan warung kecil seadanya, dengan segala ketulusan hatinya mengikhlaskan seluruh penghasilannya pada hari itu demi si mbah yang terlunta mengharap belas kasihan mereka yang berada. Dengan keadaan si ibu yang ditinggal suaminya, sendirian membesarkan dua anaknya dalam kejamnya dunia nyata. Keikhlasan dan kesederhanaan yang begitu bernilai dimata Allah diantara kehidupan duniawi yang penuh dengan dusta dan tipu muslihat. Dimana ketulusan dan belas kasih adalah suatu yang langka. Mengiringi jejak nafas kehidupan anak manusia.

Betapa si ibu menangis dan takut, ketika tiba-tiba salah seorang tim acara reality show, mendadak memberikan uang berlembar-lembar banyaknya. Menangis dan takut karena, dia tidak mengharapkan apa apa dari keihklasannya. Takut karena merasa itu bukan haknya. Betapa ia menangis saat sang anak datang, dan berujar : “janganlah kau marah pada ibumu, karena ibu sudah berusaha, kamu anak lelaki satu satunya, tempat ibu bergantung kepadamu saat renta nanti”

Atau cerita betapa seorang anak umur 5 tahun yang sudah harus merawat ibunya yang lumpuh, dan adik2nya sementara si ayah harus pergi berjuang menantang dunia demi pulang membawa rupiah yang tak seberapa. Apakah cerita-cerita itu tak menghantam sisi humanis kita ? Allah sudah memberikan petunjuknya, semoga kita bisa berkaca kepada mereka.
Amin.

Renungan malam.

Jakarta, 23 april 2011 jam 03.00 dinihari.

Advertisements

i miss you

I miss the time when I feel u kickin inside ur mommy tummy,
I miss the time when I use to hold u in the morning when the sun not yet rise, and the birds is chirping
I miss the time when I hear ur voice for the first time
I miss the time when u pee on me, and cry
I miss the time when I have to change ur diaper
I miss ur body fragrance
I miss the time when I use to accompany you in front of the tv and answer every question you ask
I miss the time when I use to play around with you
I miss that laugh, I miss that cry
I miss the time when u use to scared of thunder sound, and snuggle ur self in to me
I miss the way you used to call me”ayah”

I miss you junior…:(


Maaf…

Waktu memang tidak bisa diputar, cuma bisa pasrah dengan semuanya.

Penyesalan pasti datang belakangan, tidak ada yang bisa merubahnya.

Semoga semua ada hikmahnya dan menjadi yang terbaik untuk semuanya.

Semoga dimaafkan segala kesalahan ini.

 

Insya Allah.


Renungan dari sebuah perjalanan

 

Suatu saat aku sempat kembali merenungi diriku sendiri, hanya karena satu hal yang tak pernah terpikirkan olehku. Disaat aku pergi jauh, mereka menanti dengan penuh harap. Apalagi si kecil, dari sms bundanya, aku tahu dia sudah menungguku sejak lepas magrib di depan gerbang rumah. Tekadnya kuat, menungguku pulang dan tak mau masuk ke dalam rumah walau malam mulai larut, namun akhirnya kantuk dan lelahnya mengalahkan keinginannya menantiku yang terlambat pulang.

 

Aku tahu apa salahku, mungkin aku terlalu memaksakan keinginanku untuk pergi. Mungkin aku terlalu memaksakan ego ku, dan melupakan kalian yang lebih membutuhkanku  di waktu liburku. Sempat terbayang olehku wajah si kecil yang memanggilku lirih, atau saat dia bertanya kepada bundanya….’ayah kemana bunda ??? ‘.

 

Kutahu waktuku tak banyak tuk bersama kalian, andai saja kusadari betapa berharganya waktu berada diantara kalian. Mungkin tak sebanding dengan kesenanganku menikmati deru angin di atas sepeda motorku, berjalan beriringan bersama teman-teman, atau ketika menekuk setang motorku, melibas setiap tikungan yang ada, hingga semua adrenalin ini lepas…..Kutahu mungkin akan lebih indah bercengkerama bersama kalian di rumah, dalam hangatnya suasana, atau mengajari si kecil sedikit apa yang kumiliki tuk bekalnya dewasa kelak.

 

Maafkan aku jika aku lupa sayang, maafkan aku jika kemarin aku tak pernah sadari bahwa ada kalian di dalam hidupku. Aku tahu kalian yang selalu khawatir dengan keadaanku. Aku tahu aku pasti akan kembali kepada kalian, di dalam situasi apapun, kalian yang akan selalu menerima ku dengan tangan terbuka. Dan aku hanya bisa berdoa agar diberi keselamatan dalam setiap perjalanan ku pulang. Semoga aku tidak terlambat menyadari ini semua, semoga aku tidak terlambat untuk hadir diantara kalian….karena bila aku terlambat, aku pasti akan menyesali semuanya…..

 

 

Teriring Sayang….

 

Ayah…

 

 


bibir manis

Entah bualan apa yang bisa membuat mereka terlena padaku. Aku sendiri tak mengerti kenapa mereka bisa merasa nyaman padaku. Wanita-wanita itu dengan mudahnya melahap habis semua kalimat yang terlontar dari mulutku. Apa pun yang kukatakan, tak pernah mereka tak mengiyakan.

Kadang terlintas di benakku, apa semua itu tulus dariku ? ku tak tahu. Yang jelas aku senang bisa membuat mereka tenang, dan mau dengarkan nasehatku. Ada rasa berarti di diriku bila mereka mau ceritakan kisah-kisah mereka padaku.

Ah, sudahlah… kubiarkan saja mereka dengan anggapannya. Aku cuma pendengar yang baik, mungkin sedikit kata bisa kuucapkan dan bila itu membuat mereka nyaman, ya bagus untuk mereka. Lain hal jika mereka ingin membalas semua kenyamanan itu, dengan tak sekedar bicara. Kenyamanan mereka mulai tumbuh menjadi keinginan tuk dekat denganku. Bertemu dan entahlah…bukan sesuatu yang kupinta, mungkin kembali lagi dari ucapan manis yang terlontar dari bibirku.

Kini tinggal aku yang tak mengerti harus apa…biarkan mereka dengan keinginan mereka, atau aku yang harus memberi batas akan kenyamanan mereka ??