Rebelious soul inside a calm spirit weblog

Latest

A path of a heart

One day i meet her, not physically just from the voice

We talked a lot and shared our story, then we put a heart on it

A day wont passed by without a single phone call or a short message from her

Just a glance of a missing feeling of velvety smooth sounds of her and a little anger of not knowing her news

The felt grow strong in a couple of sweet month, we blended our heart into a romantic chat and lovely words

We know its a sins, cause there you are far away with your partner, and here i am with mine too, but how can we tell the joy of it though we know thats not right.

One day she’s gone and disappear…leaving me behind in a path that i dont want to go trough without her by my side

A path of a heart that left behind…

Advertisements

Sabar…??

Sudah jadi jadwal rutin kalo tiap pagi harus nganter nyonya besar berangkat ngantor. Nah, yang jadi masalah ya itu, prosesi nganter, sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor. Ada aja yang namanya godaan. Geregetan bawaannya. Coba bayangin, banyak bener orang yang bawa kendaraan pada ga pake otak. Sruntal sruntul macam tikus curut. Udah tahu macet, pake ngebut…ntar kalo benjut, orang disalahin….sableng bener. Berapa kali saja, tak terhitung pengendara2 nekat itu, nyalip dengan space yang bener-bener tipis. Sabaaarrrrrr…

Ada lagi cerita di pertigaan, sepanjang jalan macet, motor pada berderet-deret ga ada yang mau ngalah. nah dari samping mobil juga antre, kebetulan ada satu mobil yang sopirnya kakek-kakek. Entah apa karena panik atau memang baru belajar nyetir. Tiba-tiba tuh mobil maju pelan-pelan, akhirnya salah satu motor di depannya rubuh, pengendara dan boncengernya ambruk. Si mas pengendara motor langsung berdiri dan menghampiri si Kakek. Si kakek cuma bisa ngangkat tangan minta maaf. Mungkin maksud si kakek, dia mau mundurin mobilnya biar motor-motor itu bisa lewat…eh saking kikuknya, malah maju…hihihi

Pffttt ada ada aja memang kejadian di jalan…

Kenapa kamu Ti ?

Bolak-balik si Titi lagi, mungkin itu kata nyonyah di rumah selaku menteri keuangan di negara kecil, sempit, di sudut selatan jakarta. Lah, mungkin kalimat itu yang kan kudengar nanti, saat kuutarakan apa yg kurasakan saat menunggangi Titi.

gak tahu kenapa mesinnya mulai berisik lagi, mungkin keteng, mungkin, ah mungkin…biar ke bengkel saja yang tahu…

Cuma sepanjang jalan menuju kantor, serasa gliyur-gliyur (kalo kata emakku)….pas ku cek, ternyata bannya kurang angin, apa mungkin karena aku lupa ganti pentilnya waktu masang ban baru ?

Ah….kadang capek aku ngurusin si Titi, tapi ada kalanya dia memberikan kesenangan  yang cuma aku dan dia yang bisa merasakannya….heheheh

Satu pintaku Ti, kapan aku bisa membawamu pergi ke bengkel hanya untuk ganti oli, dan tidak yang lain….???

Bluwek…

Bluwek….ya bluwek….kata emakku,  motorku bluwek, gemuk (oli) tok dimana-mana…

Memang beberapa hari terakhir ini aku malas banget nyuci si Titi. Males banget. Pulang malem niat biar adem dulu mesinnya, tapi keasyikan nonton television…halah.., mulai ngantuk dan ketiduran. Bangun pagi malah kesiangan, padahal rencananya sebelum nganter nyonyah pengen semprotin si Titi bentaran pake aer keran. Yah gagal lagi.

Bluwek kamu Ti, tapi biarlah minggu ini kamu bluwek, aku janji nanti sepulang ngantor, tak rendam kamu dalam balutan sabun wangi dan dinginnya air keran di malah hari…..

I wish she read this…

If I’m the one who took your pride, would you love me as the time go by ?

If I’m far away from your side, would you love me as the time fly away ?

If I’m going from the feel we care, would you still love me untill I came by ?

If I’m the one who betray, would you forgive me and love me just like the way ?

Someone far way longing for you, just a silence pray that slowly fade away

When I try to cry and screaming the name, the silence keeping it away

Should I wait nor rely on the time washing away my pain ?

Or just stay helpless, lying, and pretending my self that you are here anyway ?

Si Titi dan Karet mahal bernama Battlax

Minggu kemarin habis sudah waktu dan isi dompetku tuk si karet bundar ini. Budget awal ternyata tak sesuai harga di pasaran, karena kenaikan harga yang tak tanggung-tanggung.

Berkat pertolongan dari seorang sahabat dekat, akhirnya aku dapatkan juga si karet bundar ini dengan harga dibawah harga pasar (walaupun tak bisa dibilang murah juga). Bahkan beberapa kawan bilang kalo aku salah beli dengan harga itu, ah sudahlah,,,toh mereka tak membantuku saat aku ribut mencari pengganti si BT 45 yang sudah minta pensiun.

Dan minggu kemarin resmilah si karet bundar ini menggantikan BT 45 R yang sudah tipis dan habis alur  tengahnya ( aku bukan tipe penikung yang alurnya selalu habis di sisi-sisi karet bundar ini).

Tapi memang sudah takdirnya, ada harga ada barang, ono rego ono rupo, bukan main performa si karet hitam ini. Semenjak senin aku seperti bercinta dengan si Titi, tiger hitam kesayanganku. Kemanapun ku tekuk setangnya, sepertinya dia tak pernah menolak. Kaki-kakinya mencengkeram erat di setiap aspal yang kulewati. Ditambah prosesi tune up dan penggantian oli yang kulakukan seiiring penggantian si karet bundar mahal itu, bukan main binalnya si Titi, tigiku. Anda ingin buktikan ?

bibir manis

Entah bualan apa yang bisa membuat mereka terlena padaku. Aku sendiri tak mengerti kenapa mereka bisa merasa nyaman padaku. Wanita-wanita itu dengan mudahnya melahap habis semua kalimat yang terlontar dari mulutku. Apa pun yang kukatakan, tak pernah mereka tak mengiyakan.

Kadang terlintas di benakku, apa semua itu tulus dariku ? ku tak tahu. Yang jelas aku senang bisa membuat mereka tenang, dan mau dengarkan nasehatku. Ada rasa berarti di diriku bila mereka mau ceritakan kisah-kisah mereka padaku.

Ah, sudahlah… kubiarkan saja mereka dengan anggapannya. Aku cuma pendengar yang baik, mungkin sedikit kata bisa kuucapkan dan bila itu membuat mereka nyaman, ya bagus untuk mereka. Lain hal jika mereka ingin membalas semua kenyamanan itu, dengan tak sekedar bicara. Kenyamanan mereka mulai tumbuh menjadi keinginan tuk dekat denganku. Bertemu dan entahlah…bukan sesuatu yang kupinta, mungkin kembali lagi dari ucapan manis yang terlontar dari bibirku.

Kini tinggal aku yang tak mengerti harus apa…biarkan mereka dengan keinginan mereka, atau aku yang harus memberi batas akan kenyamanan mereka ??